JOGJA.PUSARAN.ONLINE – Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengajak masyarakat untuk dapat memaknai filosofi layang-layang sebagai pelajaran dalam memaknai keseimbangan hidup. Untuk dapat terbang tinggi, manusia dianggap tidak cukup jika hanya memiliki mimpi yang besar, namun turut membutuhkan keseimbangan, kendali, serta pijakan yang kuat.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, saat membacakan sambutan Gubernur DIY dalam pembukaan Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 di Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul, Sabtu (11/07). Sebanyak 17 negara turut ambil bagian dalam gelaran tersebut, menghadirkan puluhan layang-layang dengan corak, bentuk, dan ukuran yang bervariasi, semakin memperindah langit Pantai Parangkusumo sejak sore hingga malam hari.
“Sebagaimana layang-layang membutuhkan angin yang kuat, tali yang terjaga, serta tangan yang mampu membaca keadaan, kehidupan manusia pun menuntut hal serupa. Cita-cita tak hanya membutuhkan keberanian untuk naik, tetapi juga kendali, ketekunan, dan kesadaran akan tempat kita berpijak,” tutur Imam.
Sri Sultan menilai JIKF 2026 bukan sekadar ajang pertunjukan seni layang-layang, melainkan turut menjadi ruang diplomasi budaya, penguatan nilai keluarga, serta upaya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor pariwisata. Melalui tema “Melayang Bersama Keluarga, Membentuk Generasi Emas yang Berkualitas”, Sri Sultan turut mengajak seluruh pihak untuk dapat menghidupkan kembali interaksi nyata dalam keluarga di tengah dominasi layar digital, sekaligus menjaga tradisi melalui sentuhan kreativitas masa kini.
“Kebahagiaan sebuah festival menjadi sempurna ketika meninggalkan kesan baik, menggerakkan ekonomi lokal, dan tetap menjaga kelestarian alam. Semoga layang-layang yang terbang dari pantai Parangkusumo hari ini membawa pesan persahabatan ke berbagai penjuru dunia. Biarlah angin mengangkat karya kita dan kebersamaan menjaga arah perjalanan kita,” tutup Imam.
Pada kesempatan yang sama, mewakili Bupati Bantul, Sekretaris Daerah Kabupaten Bantul, Agus Budiraharja menegaskan, sektor pariwisata menjadi salah satu penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bantul dengan menempati posisi tiga besar. Karena itu, penyelenggaraan JIKF 2026 diharapkan tidak hanya menggerakkan roda perekonomian daerah, tetapi semakin meningkatkan perhatian masyarakat terhadap Kabupaten Bantul, yang pada 20 Juli mendatang akan memperingati Hari Jadi ke-195.
Agus menambahkan, penyelenggaraan JIKF yang ke-11 kalinya di Pantai Parangkusumo ini merupakan upaya melestarikan seni layang-layang sebagai warisan budaya dunia, sekaligus memperkenalkan potensi wisata Bantul kepada masyarakat internasional. Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan arah kebijakan pembangunan Pemerintah Daerah (Pemda) DIY yang menjadikan kawasan Parangkusumo sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui sektor pariwisata.
“Kami percaya dengan sinergi dengan kolaborasi antara pemerintah seluruh komponen, pemangku kepentingan dan seluruh masyarakat kita akan mampu mewujudkan visi tersebut, dan pada akhirnya akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat Bantul dan Daerah Istimewa Yogyakarta,” lengkap Agus.
JIKF 2026 digelar selama dua hari, yakni pada Sabtu, 11 Juli hingga Minggu, 12 Juli 2026. Selain menyuguhkan festival layang-layang, acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai penampilan menarik, seperti pembukaan oleh Bregada, night flying, lolly drop, pertunjukan barongsai, serta beragam hiburan lainnya.











